Dicela itu sebetulnya lebih bermanfaat dari pada dipuji.
Kok gitu..?

Coba deh pikirkan..

Kalau kita dipuji dan ternyata pujian itu benar, seringkali kita susah menjaga hati..
Suka ada bangga diri..
Atau setidaknya jadi senang pujian..
Kalaupun termotivasi, semangatnya karena pujian, tidak murni karena Allah Ta’ala..

Kalau ternyata pujian itu tidak benar lalu kita merasa senang..
Maka kita masuk ancaman hadits, “Orang yang merasa puas dengan apa yang tidak diberikan bagaikan memakai dua pakaian kedustaan..” (HR Al Bukhari)

Tapi..

Kalau dicela..
Kalau celaan itu benar..
Setidaknya menghindarkan diri kita dari ujub dan sombong..
Celaan sebetulnya bermanfaat untuk memperbaiki diri..
Tapi ini buat yang cerdas dan mampu menahan esmosi..
Adapun buat yang tempramenan..
Celaan malah jadi penyakit hati..

Jika celaan itu tidak benar dan kita bersabar dan tidak membalas mencela..
Maka itu jadi pahala..
Bahkan mendapat pahala dari dia tanpa harus beramal..
Dan malaikat akan membalas celaannya..

Jadi kalu kita dicela..
Pinter-pinter aja me-menej hati..
Kalau dipuji..
Mintalah kepada Allah keikhlasan dan kekuatan..
Dan jangan sampai punya sifat doyan pujian..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *