Orang yang terlahir dalam kondisi kaya, sering kali tidak bisa memahami bagaimana perasaan orang miskin, akibatnya ia begitu mudah terpleset di jurang kemiskinan.

Orang yang terlahir dalam dalam kondisi muslim, sering kali kurang mampu memahami bagaimana cara berpikir dan derita orang kafir, akibatnya ia sering lengah dan tanpa disadari telah terjerumus dalam kekufuran.

Orang yang terlahir dalam kondisi aman, sering kali kurang bisa memahami bagaimana susahnya hidup di negri yang kacau balau, sehingga ia begitu mudahnya membuat kegaduhan.

Dan demikan seterusnya.

Kenapa semua itu bisa terjadi ?

Itu semua terjadi karena kebodohan dan kerdilnya akal manusia. Manusia sering kali hanya berpikir searah, terlebih yang sesuai dengan kenyamanannya. Namun anehnya, kenyamanan yang ia rasakan bila berkepanjangan sering kali dianggap membosankan, dan akhirnya coba coba atau penasaran, atau kurang peduli, bahkan dianggapnya tiada artinya alias remeh.

Akal manusia sering kali butuh pembanding untuk bisa memahami hakekat dan nilai setiap urusan.

Anda baru menyadari arti istri anda di saat dia sakit atau safar atau bahkan setelah anda mengusirnya pulang ke rumah orang tuanya.

Anda baru bisa memahami arti kesehatan bila anda telah menderita sakit.

Anda bisa menghargai teman bila sedang dalam kesepian.

Sebaliknya, Anda bisa saja merindukan hadirnya kesepian bila anda sedang pusing dengan kesibukan apalagi merasa dibuat repot oleh banyaknya teman.

Anda bisa merasakan nikmatnya hidup menjomblo bila sedang puyeng diuprak uprak oleh istri atau dicerewetinya.

Jadi sebenarnya hadirnya teman, istri, dan lainnya, itu nikmat atau petaka ya?

Bingung…….

?? Ya, itulah dunia, semu dan sementara, nikmat hanya terasa sementara dan deritapun sejatinya juga sementara, hanya akhirat yang kekal.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *