Di bulan suci ramadhan kita pun dituntut beribadah dengan hati kita.
Di siang hari kita beribadah dengan kesabaran saat menahan lapar dan haus serta pembatal-pembatal puasa. Dan di malam hari kita beribadah dengan rasa syukur atas limpahan makanan dan minuman saat berbuka.

Betapa banyak orang yang semangat shalat tarawih di malam-malam ramadhan namun lupa menghadirkan rasa syukur atas nikmat di malam-malam terbaik ini, bahkan tidak jarang mengeluh dan tidak puas dengan menu buka malam ini.

Bukankah saat ini banyak saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan makanan di tengah musim panas yang membakar atau musim dingin yang menusuk tulang?!

Saudaraku,
Saat anda melihat hidangan berbuka, ingatlah keadaan saudara kita di Suria, Palestina, dan kamp-kamp pengungsian!

Ingatlah kesepakatan seluruh ulama bahwa
amalan hati lebih bernilai dibandingkan amalan fisik !

‏﴿٧﴾ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

(7) Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Saudaraku,
Pertahankan amalan fisik di malam hari seperti tarawih dan membaca Al Quran, lalu penuhi hati kita dengan rasa syukur atas segala nikmatNya.

Sari nasehat ini dipetik dari ucapan Imam Ibnu Rojab -rahimahullah- dalam Lathaif Ma’arif 294.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *