ANTARA LOGIKA DAN PERASAAN

Narasumber : H. Helmi Basri, Lc., MA
Tanggal Posting : 2013-02-01 13:31:37
Dikirim oleh : Administrator
Kategori: artikel

Adalah sebuah kewajaran ketika seseorang mengerjakan sesuatu sejalan dengan perasaannya. Juga merupakan hal yang baik ketika ia melakukan sesuatu sesuai dengan logikanya. Permasalahannya adalah ketika berbenturan antara perasaan dan logika manakah yang harus didahulukan? Apakah ia akan lebih mendahulukan perasaannya dari pada logika? Atau sebaliknya?
Wacana ini muncul dalam fikiran saya ketika sedang makan malam bersama teman di sebuah restoran di Kota Rabat. Dikarenakan proses pendaftaran S3 di Maroko yang sangatberbelit-belit secara administrasi dan memakan waktu yang cukup lama, kepada saya beliau berkata: “Sepertinya saya lebih baik pulang ke Indonesia saja. saya sudah kangen sekali kepada keluarga sementara urusan di Maroko tak kunjung selesai. Kepada beliau saya berkata: “Apakah hal itu sudah anda pertimbangkan secara matang? Bukankah keberadaan anda selama di Maroko sudah menghabiskan biaya yang begitu besar lalu pulang ke tanah air tanpa membawa hasil apa-apa hanya karena menuruti sebuah perasaan? Sabarlah, dan yakinlah urusan anda pasti akan selesai, ini hanyalah permasalahan waktu. Sepertinya nasehat saya yang bak seorang guru itu cukup bisa dipahami oleh beliau.
Satu fase dari perjalanan hidup saya itulah itulah yang menyebabkan saya menarik sebuah kesimpulan bahwa «  Apabila berbenturan antara logika dan perasaan maka logika lebih pas untuk dikedepankan ». Ini memang bukan masalah boleh atau tidak boleh, karena tidak ada yang bisa memaksa kehendak kepada orang lain,  akan tetapi dalam manajemen pengambilan sikap kita harus selalu cerdas untuk mengedepankan solusi yang positif dan produktif yang karenanya statemen di atas sangat mendapat tempat.
Ternyata dalam beragama pun juga seperti itu. Rekaman perjalanan kehidupan para sahabat bersama Rasulullah SAW menggambarkan bahwa mereka selalu mendahulukan logika dari pada perasaan di saat berbenturan, apalagi jika logika yang dimaksud adalah logika agama..
Salah satu contoh: dalam sebuah perjalanan bersama Rasul ketika para sahabat sudah bersiap untuk sholat shubuh akan tetapi Rasulullah SAW meminta waktu sebentar untuk buang air, hanya saja Rasul pergi dalam waktu yang cukup lama sehingga dikahawatirkan waktu shubuh akan berakhir. Di saat itulah sahabat dituntut untuk mengambil sikap apakah mereka akan mengangkat seseorang untuk menjadi imam lalu mereka sholat saja mengingat waktu shubuh sudah hampir habis, ataukah mereka mengikuti perasaannya untuk tetap menunggu Rasul dan sholat bersama beliau. Akhirnya mereka memilih untuk tetap sholat saja meskipun bukan bersama Rasul.
Contoh lain: di akhir-akhir kehidupan Rasulullah SAW di saat beliau sudah sakit ketika itu yang menjadi imam sholat adalahAbu Bakar (RA). Di saat Abu Bakar menjadi imam tiba-tiba Rasul muncul dari balik tabir, ketika itu Abu Bakar mundur ke belakang karena ia merasa tidak pantas jadi imam sementara Rasul ada, akan tetapi Rasul mengisyaratkan kepada beliau untuk tetap melanjutkan dan menyempurnakan sholat.
 Begitulah generasi terbaik umat telah mengajar kita untuk tidak terjebak dalam mengikuti perasaan.
Dalam kontek kehidupan sehari-hari, dalam berbagai lini kehidupan serta di berbagai level dan tingkatan kaedah ini sangat penting dalam merumuskan langkah dan sikap. Saya ingin memberikan contoh sederhana: di kalangan para mahasiswa selain memperbincangkan masalah studi biasanya obrolan sering mengarah.kepada masalah yang satu ini “NIKAH”. Ada aja di antara mereka yang iseng-iseng nanya tentang itu. Hal ini tentu saja merupakan sesuatu yang wajar, namun kalau kita kembalikan kepada kaedah di atas untuk merealisasikan apa yang diperbincangkan, maka janganlah anda semata-mata mengikuti perasaan anda yang selalu ingin merasakan nikmatnya nikah tanpa membaca realita, meskipun tidak mustahil anda akan mendapatkan sentuhan keberkahan seperti yang dirasakan manisnya oleh si Fahri sang tokoh Novel Ayat-Ayat Cinta itu.
Saya kira masih banyak contoh yang bisa kita angkat dalam hal ini, silahkan anda amati sendiri.
Jadi, bacalah perasaan anda dengan jujur lalu pelajari realita anda dengan logika yang benar setelah itu silahkan ambil keputusan.
*Penulis adalah dosen Fakultas Syariah dan IlmHukum dan Naib Syeikh 2 Bidang Administrasi dan Keuangan Ma’had Al-Jami’ah. Sekarang beliau sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Maulay Ismail-Meknes- Maroko